• Headline News

    Senin, 18 Desember 2017

    80 KK Di Desa Ahiyolo Hidup Tanpa Terang



    Piru, Kompastimur.com
    Masih hidup dalam keterisolasian dan jauh dari kata terang hal itulah yang di rasakan oleh 80 Lebih Kepala Keluarga (KK) yang berdomisili di Desa Ahiyolo Kecamatan Elpaputi, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

    Pasalnya sudah sejak puluhan tahun ini mereka masih bergantung pada alat penerang sederhanan berupa pelita (lenterah) yang terbuat dari kaleng susu bekas dan gagan payung yang di potong sebagi sumbuh pelita, bahkan ada yang masih menggunakan obor yang terbuat dari lolebah (jenis pohon Bambu).

    Seperti yang di ungkapkan oleh salah satu kepala Keluarga Rania Haikuty  Kepada Kompas Timur.Com Sabtu (9/12/2017 dikatakannya memang sejak enam bulan kemarin kami sudah di pasang meteran listrik oleh pihak PLN namun sampai saat kampung kami belum masuk aliran ristrik oleh pihak PLN yang telah memasang meteran tersebut.

    "Beta deng beberapa kepala keluarga suda pernah pigi tanya akang di pihak PLN ranting liang yang datang pasang katong pung meteran ini kanapa sampe saat ini lampu di kotong pung kampung ini balom kuat par manyala-manyala ini? Tapi dong bilang katong masih dalam tahap finising untuk kasih masuk listrik padahal katong su bayar biaya pemasangan jangan sampe dong PLN ini cuman tipu katong saja"ungkapnya

    Selain itu Haikuti juga mengungkapkan pentingnya aliran listrik sangat diharapkan oleh kami warga 80 KK lebih yang berdomisilih di Negeri Ahiyolo sebagai sumber kehidupan penting bagi kami, pasalnya selain sebagai sumber penerang listrik juga bisa di manfaatkan sebagia penunjang kebutuhan lain seperti sarana belajar mengajar, sarana penunjang ibadah dan sarana hiburan bagi kami.

    Selain aliran listrik negeri kami juga masih terisolasi dari sarana air bersih dan sarana jalan trasportari.

    "Katong kalu mau pigi timbah aer par kebutuhan rumah tangga seperti minum, cuci, dan mandi katong harus bajalang kaki cukup jau bisa sampe satu atau dua kilo par cari sumber air bersi apalagi kalu musim ujang bagini samu sumber air yang ada ini kotor, yang terpaksa biking katong musti bajalang kaki cukup jau par ambel air" ungkapnya.

    "Selain air jalan juga sangat penting par katong sebab kalu kodisi ujang bagini terpaksa katong harus biking rakit untuk turun ke mata jalan raya yang berjarak hampir 10 kilo meter dari negri katong" ungkapnya.

    Haikuty berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi ini agar tidak menjadi terlarut larut bagi kami.( KT-MFS)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: 80 KK Di Desa Ahiyolo Hidup Tanpa Terang Rating: 5 Reviewed By: Redaksi Kompas Timur
    Scroll to Top