Dari Sawah ke Botol: Membangun Ekonomi Hijau dari Jerami Padi

Ide Investasi74 Dilihat

Pertamina dan Inovasi Hijau: Transformasi Limbah Jerami Menjadi Peluang Ekonomi Baru di Desa


Jakarta

Inovasi hijau kini tak lagi lahir dari laboratorium besar di kota, tapi dari ladang-ladang sederhana di desa. Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi dan ekonomi masyarakat, Pertamina terus menunjukkan peran aktifnya melalui program CSR yang mendorong kreativitas lokal. Dengan semangat inovasi dan pendampingan berkelanjutan, perusahaan energi nasional ini mengajak masyarakat untuk melihat potensi di sekelilingnya – termasuk limbah pertanian yang selama ini dianggap tak berguna.

Salah satu kisah sukses lahir di Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Di daerah ini, jerami padi yang dulu hanya dibakar setelah panen, kini diolah menjadi bioetanol bahan dasar parfum – membuka peluang ekonomi baru bagi warga desa dan menjadi simbol kolaborasi antara ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian lingkungan.

Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Pertamina dalam memperkuat ekonomi hijau di tingkat masyarakat akar rumput, sekaligus mendukung program pemberdayaan berkelanjutan yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui pelatihan, edukasi, dan pendampingan intensif, masyarakat kini tak hanya mengolah limbah, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang berdaya saing.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama bertahun-tahun, jerami padi dianggap sebagai limbah tak berguna. Setelah panen, jerami biasanya dibakar atau dibiarkan mengering di ladang, mengotori lingkungan dan menyia-nyiakan potensi ekonominya.

“Dahulu, tumpukan jerami ini kami bakar. Tapi setelah mendapatkan edukasi dan bimbingan dari Pertamina, limbah jerami kini diolah menjadi campuran parfum dan pupuk,” terang salah satu warga bernama Yul Bahari, dikutip dari Antara pada Selasa (11/11/2025).

Namun kini, jerami memiliki cerita baru. Dengan inovasi dan kreativitas, limbah yang dulu hanya sampah ini bisa diolah menjadi bioetanol, bahan dasar parfum, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.

READ  Keluhan MenPAN-RB Terkait Penurunan Formasi ASN Akibat Keterbatasan Anggaran

Melalui program CSR, PT Pertamina (Persero) memberikan pelatihan dan pendampingan langsung agar masyarakat mampu mengolah jerami menjadi produk bernilai tinggi. Program ini tak hanya menciptakan keterampilan baru, tetapi juga memperkenalkan konsep ekonomi hijau yang menjadikan masyarakat lebih mandiri dan berdaya di tengah tantangan global.

Melewati Uji Laboratorium

Pembuatan parfum dari jerami padi melewati proses ilmiah yang menarik. Mulai dari pembersihan bahan, tahap hidrolisis, fermentasi, hingga destilasi etanol – semua dilakukan dengan teliti agar menghasilkan bioetanol berkualitas tinggi.

Jerami kering sebanyak 10 kilogram dimasak dalam 200 liter air selama satu jam, lalu difermentasi selama 3-7 hari menggunakan ragi alami. Setelah itu, dilakukan proses destilasi dua hingga tiga kali untuk menghasilkan etanol murni dengan kadar 95%.

Penelitian ini melibatkan dua peneliti dari Universitas Andalas (Unand), Daimon Syukri dan Efrina Herman. Efrina menjelaskan bahwa penggunaan bioetanol dari jerami kering sebagai bahan dasar parfum merupakan inovasi baru yang diusung pertama kali oleh Pertamina.

“Pembuatan parfum menggunakan bioetanol jerami kering seperti ini tergolong unik, karena umumnya parfum menggunakan alkohol dari bahan kimia. Belum ada parfum dari bioetanol jerami sebelumnya,” jelas Efrina.

Dari hasil uji laboratorium Unand, 9 kilogram jerami padi bisa menghasilkan 1,5-2 liter bioetanol murni. Kualitas hasil bergantung pada kondisi fermentasi, jenis ragi, dan nutrisi tambahan yang digunakan. Inovasi ini menunjukkan bahwa potensi energi dan ekonomi hijau bisa lahir dari bahan-bahan sederhana, asal dikelola dengan pengetahuan dan semangat kolaborasi.

Program Si Cadiak: Wujud Komitmen CSR Pertamina

Program CSR “Si Cadiak” menjadi wadah utama bagi Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut untuk mendorong inovasi berbasis potensi lokal.
Menurut Community Development Officer AFT Minangkabau, Wahyu Hamdika, program ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat sekitar melalui pelatihan, pendampingan, dan edukasi lingkungan.

“Program ini bertujuan memberdayakan masyarakat lewat potensi yang tersedia di sekitar lingkungan perusahaan. Si Cadiak menjadi bentuk nyata komitmen Pertamina terhadap pembangunan berkelanjutan,” ujar Wahyu.

READ  Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan untuk Lebih dari 165.000 Guru TK Madrasah dan Pondok Pesantren

Ke depan, Pertamina menargetkan Nagari Padang Toboh Ulakan sebagai desa percontohan pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture) di Sumatera Barat. Praktik-praktik terbaik dalam pengelolaan limbah pertanian diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk meniru model ekonomi hijau berbasis desa.

Dukungan dan Apresiasi dari Pemerintah Daerah

Program ini juga mendapat apresiasi dari pemerintah daerah. Plt. Kepala Disparpora Kabupaten Padang Pariaman menyampaikan terima kasih atas kontribusi Pertamina dalam menggerakkan ekonomi lokal dan menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pertamina yang telah hadir dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Padang Pariaman. Kegiatan ini bukan hanya memberi ilmu baru, tetapi juga membuka peluang usaha kreatif yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya, dikutip dari situs resmi Disparpora.

Kisah ini menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan energi nasional mampu menyalakan semangat inovasi di desa, bukan hanya lewat energi fosil, tapi melalui energi ide dan pemberdayaan manusia. Dengan dukungan ilmu pengetahuan, kolaborasi akademisi, dan komitmen CSR yang berkelanjutan, Pertamina berhasil membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil di ladang padi.

Dari jerami yang dulu dibakar, kini lahir wangi parfum – simbol transformasi energi, ekonomi, dan harapan baru bagi masyarakat desa. Dengan pendekatan berkelanjutan seperti ini, Pertamina bukan hanya menghadirkan energi bagi negeri, tapi juga menyalakan kehidupan di setiap lapisan masyarakat.

Inovasi Jerami Padi: Transformasi Limbah Menjadi Peluang Ekonomi

Jerami padi, yang selama ini dianggap sebagai limbah tak berguna, kini menjadi bahan utama untuk inovasi hijau yang mengubah paradigma ekonomi di desa. Melalui program CSR yang dijalankan oleh Pertamina, masyarakat desa diajak untuk melihat potensi di sekelilingnya dan mengolah limbah pertanian menjadi produk bernilai tinggi.

READ  Ekonomi Swiss Melaju di Kuartal Keempat 2024, Melebihi Prediksi

Kisah Sukses dari Nagari Padang Toboh Ulakan

Salah satu contoh nyata keberhasilan program ini terjadi di Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Dulu, jerami padi hanya dibakar setelah panen, namun kini jerami tersebut diolah menjadi bioetanol sebagai bahan dasar parfum. Hal ini membuka peluang ekonomi baru bagi warga desa dan menjadi contoh kolaborasi yang sukses antara ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian lingkungan.

Jerami Padi: Dari Limbah Menjadi Bioetanol Berkualitas Tinggi

Proses pengolahan jerami padi menjadi bioetanol melalui tahap-tahap ilmiah yang teliti. Mulai dari pembersihan bahan, hidrolisis, fermentasi, hingga destilasi etanol dilakukan dengan cermat untuk menghasilkan bioetanol berkualitas tinggi. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa jerami padi yang dulu dianggap sebagai sampah dapat menghasilkan bioetanol murni dengan kualitas yang baik.

Program Si Cadiak: Komitmen Pertamina untuk Pemberdayaan Masyarakat

Program CSR “Si Cadiak” merupakan salah satu wujud komitmen Pertamina dalam mendorong inovasi berbasis potensi lokal. Melalui program ini, masyarakat desa diberdayakan melalui pelatihan, pendampingan, dan edukasi lingkungan. Hal ini tidak hanya menciptakan keterampilan baru, tetapi juga memperkenalkan konsep ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Dukungan Pemerintah Daerah dalam Menggerakkan Ekonomi Lokal

Program inovasi jerami padi ini juga mendapat apresiasi dari pemerintah daerah, yang melihat kontribusi nyata Pertamina dalam menggerakkan ekonomi lokal dan menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat. Dukungan dari pemerintah daerah menjadi salah satu faktor penting dalam kesuksesan program ini.

Transformasi Jerami Padi: Simbol Perubahan Menuju Ekonomi Hijau

Dari jerami padi yang dulu dianggap sebagai limbah, kini lahir wangi parfum yang menjadi simbol transformasi energi, ekonomi, dan harapan baru bagi masyarakat desa. Dengan terus mendorong inovasi hijau dan pemberdayaan masyarakat, Pertamina berhasil membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil di ladang padi.

Dengan pendekatan berkelanjutan dan komitmen CSR yang kuat, Pertamina tidak hanya menjadi penyedia energi bagi negeri, tetapi juga menjadi penggerak perubahan menuju kehidupan yang lebih baik bagi setiap lapisan masyarakat.

(ega/ega)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *