Proyek Pagar Bambu di Desa Segarajaya Dikritik Nelayan
Latar Belakang
Sebuah proyek pembangunan pagar bambu dengan ukuran panjang dua kilometer dan lebar 70 meter di perairan pesisir laut pantai Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi telah menuai kritik dari sejumlah warga yang berprofesi sebagai nelayan. Proyek ini telah berlangsung selama sembilan bulan namun tujuan pembuatannya masih belum jelas bagi sebagian warga.
Protes dari Nelayan
Salah satu nelayan, Mitun (28), mengungkapkan kebingungannya terkait proyek tersebut. Ia merasa tidak mengetahui apakah proyek ini akan berdampak positif atau negatif bagi pekerjaan nelayan. Mitun berharap agar pagar laut tersebut segera dihilangkan sehingga para nelayan dapat kembali beraktivitas dengan normal tanpa hambatan.
Mitun juga menyatakan bahwa sejak proyek tersebut dimulai, ia telah mengalami kerugian karena harus memutar arah lebih jauh dalam mencari ikan akibat adanya pagar laut tersebut. Hal ini membuatnya memutuskan untuk tidak lagi menjadi nelayan dan beralih menjadi pengemudi kapal wisata ke sungai Jengkem.
Resah Markum
Seorang nelayan lainnya, Markum (45), juga merasa resah dengan adanya proyek tersebut. Ia mengalami penurunan omzet karena limbah sisa pengerukan tanah dan aktivitas pengerjaan proyek menggunakan alat berat seperti ekskavator. Markum berharap pihak terkait dapat segera mencari solusi untuk masalah ini.
Harapan dan Tantangan
Para nelayan di Desa Segarajaya berharap agar proyek tersebut dapat diselesaikan dengan baik tanpa mengganggu aktivitas mereka. Mereka menginginkan agar keberadaan pagar laut tidak menghambat pekerjaan mereka dan berharap dapat kembali seperti semula.
Kesimpulan
Proyek pembangunan pagar bambu di Desa Segarajaya menuai protes dari para nelayan yang merasa terganggu dengan keberadaannya. Mereka berharap agar pihak terkait dapat menemukan solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan mereka dan menjaga keberlangsungan pekerjaan sebagai nelayan.






