Gelar Pahlawan untuk Soeharto: Sikap Arif dan Rekonsiliatif
Berita terbaru mengenai wacana pemberian gelar pahlawan nasional untuk Presiden RI ke-2, HM Soeharto, telah menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Namun, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Dr Heri Herdiawanto, menegaskan pentingnya sikap arif, objektif, dan rekonsiliatif dalam menyikapi perdebatan ini.
Menghormati Kontribusi Tokoh Bangsa
Menurut Dr. Heri, menghormati kontribusi setiap tokoh, termasuk pemimpin bangsa di masa lalu seperti Soeharto, adalah cermin kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara. “Setiap pemimpin bangsa memiliki jasa dan perannya masing-masing dalam membangun Indonesia. Menghargai mereka secara proporsional adalah wujud kematangan kita sebagai bangsa yang besar,” ujarnya.
Memperkuat Kesadaran Sejarah
Dr. Heri menekankan bahwa perbedaan pandangan di masyarakat seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran sejarah dan semangat kebangsaan. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menilai sejarahnya dengan jujur dan adil, bukan berdasarkan emosi. Kita perlu menempatkan setiap tokoh nasional dalam konteks zamannya dan menghormati jasa mereka tanpa meniadakan sisi kritis,” lanjutnya.
Menjaga Kesejukan Sosial Politik
Lebih jauh, Dr. Heri berharap para tokoh nasional, terutama yang memiliki pengaruh besar di ruang publik, dapat memberikan keteladanan dengan menebarkan semangat positif dan rekonsiliatif demi menjaga kesejukan sosial politik bangsa. “Tokoh bangsa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kesejukan suasana kebangsaan. Dengan kebesaran hati, kita bisa menghormati jasa para pemimpin tanpa harus mengungkit luka masa lalu,” tambahnya.
Budaya Memaafkan dan Menghargai Jasa Para Pemimpin
Dr. Heri juga mengingatkan pentingnya tradisi memaafkan walaupun sulit melupakan, sebagai bagian dari budaya luhur bangsa Indonesia. “Opus politik harus dibedakan dengan etika dan nilai-nilai kebangsaan. Salah satu ciri bangsa beradab adalah kemampuannya membangun budaya menghargai jasa para pemimpin, tanpa kehilangan daya kritis terhadap sejarah,” tegasnya.
Menatap Masa Depan dengan Optimisme
Terakhir, Dr. Heri mengajak seluruh elemen bangsa untuk menatap masa depan dengan optimisme dan semangat persatuan. “Kedewasaan bangsa tidak diukur dari seberapa keras kita berdebat, tetapi dari seberapa besar kita mampu menghargai perbedaan dan jasa para pemimpin yang telah berbuat untuk negeri ini,” pungkasnya.
Artikel ini mengajak pembaca untuk lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan pendapat dan menghargai jasa para pemimpin bangsa tanpa melupakan sisi kritis dalam sejarah. Semoga kita semua dapat menjaga persatuan dan kesatuan dalam bingkai kemajuan bangsa Indonesia.
Sumber: WartaKotaLive.com










