Penggunaan Remote Control dalam Ledakan SMAN 72: Analisis Tim Jihandak

Berita57 Dilihat

Investigasi Ledakan di SMAN 72 Jakarta

Pada tanggal 9 November 2025, terjadi ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kejadian ini menghebohkan masyarakat karena diduga melibatkan perangkat pengendali jarak jauh atau remote control. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai hal tersebut karena masih menunggu hasil analisis dari tim penjinak bom (Jihandak) dan Laboratorium Forensik Polri.

Penyelidikan

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengungkapkan bahwa pihak Jihandak sedang melakukan analisis terkait bahan peledak dan perangkat yang ditemukan di lokasi kejadian. Mereka adalah ahli yang berwenang menjelaskan detail teknis terkait ledakan tersebut.

Penyelidikan juga melibatkan Densus 88 dan tim gabungan dari Polda Metro Jaya. Mereka sedang melakukan analisis lanjutan untuk mengetahui cara pelaku merakit dan mengoperasikan perangkat yang menyebabkan ledakan.

Analisis Forensik

Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri juga terlibat dalam analisis jenis serbuk yang ditemukan di lokasi kejadian. Hasil analisis dari laboratorium ini akan menjadi penentu sumber ledakan tersebut.

Budi menegaskan pentingnya tidak berspekulasi terkait kejadian ini dan menunggu hasil resmi dari pihak berwenang. Informasi lebih lanjut akan disampaikan dalam rilis lengkap oleh Kapolri.

Keterkaitan dengan Terorisme

Hingga saat ini, belum ditemukan keterkaitan pelaku dengan jaringan teror. Meski begitu, Densus 88 terus mendalami semua kemungkinan berdasarkan hasil analisis laboratorium dan keterangan saksi-saksi.

Salah satu hal yang sedang didalami adalah makna tulisan berbahasa Inggris yang ditemukan di lokasi, seperti ‘Welcome to Hell’ dan ‘For Agartha’ yang terdapat pada senjata mainan yang ditemukan.

READ  Polisi Pintar dan Berdedikasi: Peneliti Temukan Banyak yang Luar Biasa dalam Pelayanan Masyarakat

Kesimpulan

Kejadian ledakan di SMAN 72 Jakarta masih menjadi misteri yang sedang diselidiki secara intensif oleh pihak berwenang. Masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan menunggu hasil resmi dari penyelidikan yang sedang berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *