Pemimpin Masa Lalu: Cermin Kebesaran Bangsa Indonesia

Berita84 Dilihat

Polemik Gelar Pahlawan: Menyikapi Sejarah dengan Dewasa dan Konstruktif

Mengapa Penghargaan Terhadap Soeharto Menimbulkan Polemik?

Sejak pengumuman pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto, polemik pun muncul di masyarakat. Direktur Eksekutif Center for Strategic Studies on National Resilience (Cenares) Indonesia, Raden Umar, mengimbau para elit politik untuk menanggapi polemik ini dengan cara yang lebih dewasa dan konstruktif.

Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Menghormati Sejarahnya

Menurut Umar, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memberikan penghormatan kepada tokoh-tokoh masa lalunya tanpa harus menafikan luka sejarah. Penghormatan kepada pemimpin masa lalu adalah cermin kebesaran bangsa. Kita bisa tetap kritis terhadap sejarah, tetapi tidak boleh kehilangan rasa hormat kepada mereka yang pernah berbuat untuk negeri ini.

Elit Politik Harus Berdamai dengan Masa Lalu

Umar menilai bahwa pernyataan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang menolak pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto dengan alasan luka sejarah, menunjukkan bahwa sebagian elit bangsa masih belum sepenuhnya berdamai dengan masa lalunya. Kalau bangsa ini terus melihat masa lalu dengan kacamata dendam, maka yang muncul bukan pembelajaran sejarah, melainkan luka yang terus diwariskan.

Memisahkan Objektivitas Sejarah dan Subjektivitas Politik

Umar mengingatkan bahwa pengakuan terhadap jasa seorang tokoh tidak berarti menghapus kritik terhadap kebijakannya. Pemimpin sejati mampu memisahkan antara objektivitas sejarah dan subjektivitas politik. Mengakui jasa Soeharto dalam pembangunan, ketahanan pangan, dan stabilitas nasional tidak berarti menutup mata terhadap sisi gelap masa pemerintahannya.

READ  Harga Emas Masa Depan Menguat di Asia Trading

Rekonsiliasi dan Kebesaran Bangsa Indonesia

Pengakuan terhadap jasa tokoh-tokoh nasional, termasuk Soeharto, justru dapat menjadi simbol rekonsiliasi dan kebesaran bangsa Indonesia. Memberi penghargaan kepada mereka yang pernah berjasa, meski pernah berseberangan pandangan, adalah bukti bahwa kita sudah dewasa dalam bernegara. Hanya bangsa yang berdamai dengan sejarahnya yang mampu melangkah maju.

Refleksi Moral dan Kebangsaan

Politisi PDI Perjuangan Mohamad Guntur Romli mengaku semakin tidak mengerti dengan negara ini dan sejumlah pihak yang mendukung Presiden ke-2 RI Soeharto diberi gelar Pahlawan Nasional. Sebab kata Guntur banyak sekali kejahatan Soeharto di era Orde Baru yang menyakiti hati rakyat. Mulai dari mencuri uang rakyat atau korupsi sampai dengan pembantaian massal dan penghilangan aktivis demokrasi.

Momentum untuk Rekonsiliasi dan Penghargaan Terhadap Sejarah

Umar menyerukan agar semua pihak melihat momentum ini bukan sebagai perdebatan politik, tetapi sebagai refleksi moral dan kebangsaan. Kita tak sedang membicarakan masa lalu semata, melainkan masa depan yang ingin kita bangun di atas fondasi rekonsiliasi dan penghargaan terhadap sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *