Kontroversi Penghargaan Pahlawan Soeharto: Perspektif Akademisi tentang Kebesaran Bangsa dalam Menghadapi Sejarahnya

Berita47 Dilihat

Pentingnya Berdamai dengan Sejarah: Analisis Akademisi Universitas Batam tentang Penolakan Gelar Pahlawan untuk Soeharto

Ringkasan Berita:

Akademisi Universitas Batam, Dr Fendi Hidayat, menilai penolakan Megawati terhadap gelar pahlawan untuk Soeharto harus dilihat secara objektif, bukan emosional.

Ia menekankan pentingnya berdamai dengan sejarah dan menghargai peran Soekarno maupun Soeharto sebagai tokoh besar bangsa.

Fendi mengajak semua pihak menjadikan perbedaan pandangan sebagai kekuatan untuk rekonsiliasi dan persatuan nasional.

Analisis Lebih Mendalam:

Akademisi Universitas Batam Kepulauan Riau, Dr Fendi Hidayat, memberikan pandangan yang sangat penting terkait penolakan pemberian gelar pahlawan nasional kepada almarhum Presiden Soeharto oleh Megawati Soekarnoputri. Menurutnya, penting bagi kita untuk melihat masalah ini dari sudut pandang yang lebih luas dan objektif, bukan hanya berdasarkan emosi atau pengalaman personal masa lalu.

Dr Fendi menekankan bahwa setiap pendapat mengenai tokoh besar bangsa seperti Soeharto dan Soekarno harus ditempatkan dalam kerangka kebangsaan yang utuh. Menilai tokoh sejarah besar tidak bisa hanya berdasarkan hubungan pribadi, tetapi juga berdasarkan kontribusi objektif mereka terhadap negara.

Menurutnya, mengungkit luka lama antara dua tokoh besar bangsa seperti Soekarno dan Soeharto berpotensi membuka kembali perpecahan psikologis di tengah masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi bangsa Indonesia untuk bisa berdamai dengan sejarahnya sendiri, dengan segala luka, konflik, dan jasa yang menyertainya.

Baik Soeharto maupun Soekarno memiliki peran yang sama pentingnya dalam sejarah Indonesia. Soeharto berperan dalam pembangunan dan stabilitas nasional selama puluhan tahun, sementara Soekarno sebagai Proklamator dan penggagas jati diri bangsa.

READ  Tragedi Maut di Tol Pandaan-Malang: 4 Orang Tewas dalam Kecelakaan Bus Vs Truk

Pesan Penting untuk Persatuan Bangsa:

Dr Fendi mengingatkan agar perbedaan pandangan tentang status kepahlawanan tidak menimbulkan dendam lintas generasi. Jika penolakan demi penolakan terus diwariskan, bangsa ini akan terjebak pada siklus dendam yang tidak produktif. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai perdamaian dan gotong royong, oleh karena itu penting bagi seluruh elemen bangsa untuk menjadikan sejarah sebagai pelajaran, bukan beban.

Ia juga menekankan pentingnya keteladanan para pemimpin bangsa dalam mengelola perbedaan pandangan. Politik seharusnya digunakan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan memperkuat persaudaraan kebangsaan, bukan untuk memperpanjang luka masa lalu.

Dr Fendi juga menyerukan kepada seluruh elemen bangsa untuk tidak hanya fokus pada perbedaan, tetapi juga pada persamaan dan nilai-nilai kebangsaan yang telah dibangun bersama. Hanya dengan berdamai dengan sejarahnya sendiri, Indonesia dapat menjadi bangsa yang maju dan harmonis.

Penutup:

Analisis yang mendalam dari Dr Fendi Hidayat mengenai penolakan gelar pahlawan untuk Soeharto menunjukkan pentingnya kita sebagai bangsa untuk berdamai dengan sejarah. Melihat masalah ini dari sudut pandang yang luas dan objektif akan membantu kita untuk memahami kontribusi besar tokoh sejarah dalam pembentukan identitas bangsa. Mari kita jadikan perbedaan pandangan sebagai kekuatan untuk rekonsiliasi dan persatuan nasional.

Sumber: Warta Kota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *