Kritik Megawati terhadap Gelar Pahlawan untuk Soeharto
Mengapa Penolakan Megawati Mencerminkan Bangsa yang Belum Berdamai dengan Masa Lalu?
Koordinator Aliansi Rakyat Cirebon Bersatu (ARCB), Wahyu Irawan, menilai penolakan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri terhadap usulan gelar Pahlawan Nasional bagi Presiden ke-2 RI, HM Soeharto, mencerminkan cara pandang yang terlalu personal terhadap sejarah bangsa.
Penghormatan terhadap Jasa Para Pemimpin
Menurut Wahyu, bangsa besar seharusnya tidak hidup dari luka masa lalu, melainkan tumbuh melalui penghormatan terhadap jasa para pemimpinnya. “Kalau setiap luka pribadi dijadikan ukuran dalam menilai sejarah, maka bangsa ini akan terjebak dalam ruang dendam yang tidak ada ujungnya. Indonesia tidak dibangun oleh satu keluarga, tapi oleh banyak tangan dan pengorbanan,” kata Wahyu.
Esensi Kepahlawanan yang Bersifat Nasional
Wahyu menilai alasan penolakan Megawati terhadap pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto berpotensi mengaburkan esensi kepahlawanan yang bersifat nasional. “Luka pribadi seharusnya disembuhkan, bukan diwariskan. Kalau bangsa ini terus memelihara luka, kapan kita belajar berdamai dengan sejarah?” ujarnya.
Jasa Soeharto dalam Pembangunan dan Stabilitas Nasional
Menurut Wahyu, jasa Soeharto terhadap pembangunan bangsa tidak bisa dihapus begitu saja oleh perbedaan tafsir politik. Selama lebih dari tiga dekade, Soeharto berhasil menjaga stabilitas nasional, menumbuhkan ekonomi rakyat, dan memperkuat pertahanan negara. “Kita bisa berdebat tentang kekurangannya, tapi menutup mata terhadap jasanya itu bentuk ketidakadilan sejarah,” katanya.
Perlunya Berdamai dengan Masa Lalu
Wahyu menambahkan, Indonesia membutuhkan keteladanan untuk berdamai dengan masa lalu, bukan terus-menerus terjebak dalam narasi luka. “Kita sering dengar partai bicara tentang perdamaian, tapi jika perdamaian dimulai dengan menolak pengakuan atas jasa, bukankah itu paradoks?” tuturnya.
Sejarah sebagai Cermin Bangsa
Ia juga menyindir kecenderungan sebagian elit politik yang masih melihat sejarah sebagai milik keluarga, bukan bangsa. “Sejarah bukan album keluarga, apalagi tempat menyimpan sakit hati. Sejarah adalah cermin bangsa untuk menatap masa depan,” kata Wahyu.
Penutup
Dalam konteks penolakan Megawati terhadap gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto, perdebatan antara pengakuan jasa dan kesalahan sejarah terus berlanjut. Namun, penting bagi bangsa Indonesia untuk belajar dari masa lalu dan membangun masa depan yang lebih baik dengan menghormati peran dan kontribusi para pemimpinnya.






