Bank Indonesia (BI) adalah lembaga moneter yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Salah satu langkah yang diambil BI untuk mendukung stabilitas mata uang rupiah adalah melalui skema local currency trade (LCT) antara Indonesia dan China. Dalam skema ini, Bank Milik Negara (Himbara) juga turut berperan penting.
Pentingnya Dukungan BI bagi Himbara dalam Menjaga Stabilitas Rupiah
Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) merupakan kumpulan bank-bank yang dimiliki oleh negara. Himbara mengaku butuh 100% dukungan dari Bank Indonesia (BI) untuk ikut menjaga stabilitas rupiah. Hal ini terkait dengan kondisi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang saat ini sudah mencapai Rp 17.839. Perwakilan Himbara dan Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Putrama Wahju Setyawan, menjelaskan pentingnya dukungan penuh BI dalam skema LCT antara Indonesia dan China.
Skema LCT Indonesia dan China: Peluang dan Tantangan
Dalam skema LCT Indonesia dan China, terdapat peluang besar bagi kedua negara untuk meningkatkan nilai transaksi perdagangan dan investasi bilateral. Namun, tentu saja ada tantangan yang perlu dihadapi dalam implementasi skema ini. Putrama Wahju Setyawan menjelaskan bahwa Himbara telah menyampaikan permohonan dukungan kepada Deputi Gubernur BI, Thomas Djiwandono, untuk mendapatkan likuiditas mata uang lokal yang dibutuhkan dalam skema LCT.
Dukungan Likuiditas CNY dari Bank Indonesia
Putrama Wahju Setyawan menegaskan bahwa bank-bank di dalam negeri yang terlibat dalam skema LCT ini membutuhkan dukungan likuiditas CNY atau Yuan dari Bank Indonesia. Hal ini merupakan syarat yang disampaikan kepada BI agar skema LCT bisa berjalan lancar. Skema LCT nantinya akan melibatkan tiga otoritas moneter, yaitu BI, Bank Sentral China, dan Bank Sentral Hong Kong.
Meningkatnya Nilai Transaksi LCT Indonesia-China
Indonesia dan China telah menyepakati penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi bilateral. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa nilai transaksi LCT Indonesia-China terus meningkat. Tahun lalu, nilai transaksi mencapai lebih dari US$ 25 miliar per tahun, sedangkan tahun ini transaksi bulanannya sudah mencapai sekitar US$ 3,7 miliar. BI juga telah bekerja sama dengan sejumlah bank dan bank sentral China agar transaksi yuan bisa langsung dilakukan di dalam negeri.
Peluang Transaksi Yuan di Indonesia
Perry Warjiyo juga menyebut bahwa masyarakat maupun pelaku usaha kini sudah bisa melakukan transaksi yuan di Indonesia, baik spot, swap, maupun forward. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia terus berupaya untuk memperluas jangkauan transaksi mata uang asing, termasuk dalam skema LCT dengan China.
Kesimpulan
Dukungan Bank Indonesia (BI) bagi Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dalam skema local currency trade (LCT) antara Indonesia dan China merupakan langkah yang strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mata uang rupiah. Melalui kerja sama yang erat antara BI, Himbara, dan bank-bank lainnya, diharapkan nilai transaksi LCT Indonesia-China dapat terus meningkat dan memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi kedua negara. Semoga implementasi skema LCT ini dapat berjalan lancar dan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.






