• Headline News



    Saturday, December 17, 2022

    Diduga, Gelar Sarjana Hukum Kajari Buru Bermasalah Alias Palsu



    Namlea, Kompastimur.com

    Publik baru saja dihentakkan dengan berita bahwa Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Buru, Muhammad Hasan Pakaja, SH memiliki anak yang dihukum penjara 5 tahun dan denda Rp. 10.000.000.000 lantaran terlibat kasus investasi bodong.


    Kabar terbaru yang tak kalah menghentakkan publik pun kini muncul, gelar Sarjana Hukum (SH) yang digunakan oleh Muhammad Hasan Pakaja diduga bermasalah alias palsu.

    "Diduga gelar Sarjana Hukum yang digunakan oleh Pak Kajari Buru itu bermasalah," kata sumber yang enggan namanya dipublikasikan, Sabtu (16/12/2022).

    Sumber yang mengaku cukup kenal dengan Muhammad Hasan Pakaja ini mengaku tak bisa berbicara banyak, tapi ia meminta media ini menelusurinya lebih jauh agar bisa kian terang menderang.

    "Ditelusuri saja, saya dengar Pak Kajari itu pernah kuliah pada Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), tapi tidak selesai. Kemudian beliau pakai gelar Sarjana Hukum yang menurut info, lulusan UKIT, kami duga ijazahnya didapatkan dengan cara-cara yang tidak benar," kata sumber ini.


    Sementara itu, dari penelusuran media ini pada website Sistem Teknologi Informasi Pembinaan (STIP) milik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo, yakni pada halaman https://stip.kejati-gorontalo.go.id/?menu=data_pegawai&instansi=1, diketahui bahwa sesuai data Muhammad Hasan Pakaja yang diapload dan dapat diakses itu tercatat sebagai lulusan UKIT Tomohon tahun 2000.

    Namun, setelah media ini menelusuri data Kajari Buru yang memiliki NIP 197002181992031003 ini pada website Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDDIKTI) https://pddikti.kemdikbud.go.id/, utamanya pada halaman  https://pddikti.kemdikbud.go.id/search/UKIT%20Tomohon%20Muhammad%20Hasan%20Pakaja, diketahui bahwa status mahasiswa Kajari Buru tersebut saat ini ialah Mutasi alias belum atau tidak selesai di UKIT Tomohon.

    Muhammad Hasan Pakaja diketahui tercatat memiliki Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 9891035083 dengan status awal mahasiswa ialah peserta didik baru dan semester awal ialah Ganjil 1998.

    Bahkan, pada riwayat status kuliah pun tidak tertera semester dan berapa banyak SKS yang telah diselesaikan oleh Muhammad Hasan Pakaja selama berkuliah di UKIT.

    Tak hanya itu, pada Pangkalan Data Dikti ini, khususnya pada kode mata kuliah maupun mata kuliah pun hanya terlihat kosong alias tidak tertera berapa banyak mata kuliah yang telah selesai diikuti oleh Muhammad Hasan Pakaja.

    Dari data pada website PDDIKTI ini maupun website STIP milik Kejati Gorontalo diketahui bahwa jarak waktu antara awal studi Muhammad Hasan Pakaja yang tercatat tahun 1998 dan waktu lulusan tahun 2000, maka waktu studi hingga lulus di UKIT tidak masuk akal, karena tidak sampai 3 tahun. 

    Sementara itu, Muhammad Hasan Pakaja yang dikonfirmasi terkait hal ini melalui pesan singkat maupun WhatsApp tak membalas. Saat di hubungi via telepon selulernya beberapa kali, Muhammad Hasan Pakaja malah menolak mengangkat telepon dan mematikan panggilan telepon dari wartawan media ini kepadanya.

    Sebagaimana diketahui, Muhammad Hasan Pakaja, SH telah menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Buru sejak bulan Februari 2022 lalu setelah sebelumnya menjabat sebagai Koordinator Jaksa di Kejati Gorontalo.


    Namun, setelah menjabat sebagai Kajari Buru, banyak kasus korupsi di Kabupaten Buru Selatan (Bursel) yang ditinggalkan Kajari sebelumnya, yakni almarhum Muhtadi terkesan jalan di tempat seperti kasus korupsi MTQ Bursel yang telah ada tiga tersangka, namun tak di tahan hingga kini, bahkan terkesan ada pihak-pihak yang diloloskan dalam kasus ini.


    Selain itu, ada kasus korupsi Tambatan Perahu Desa Labuang yang dikerjakan oleh Fidad Bahawarez. Menurut almarhum Muhtadi sebelum ia  ditugaskan sebagai Atase Hukum pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Arab Saudi di Riyadh, penanganan kasus ini tinggal menunggu penetapan tersangka, namun sayangnya hingga kini penanganannya kian tak jelas.


    Belum lagi, ada sejumlah kasus korupsi lainnya yang terkesan ditangani secara tertutup, seperti kasus pengadaan lampu jalan pada puluhan Desa di Bursel.


    Tapi, ternyata ada yang tidak diketahui oleh publik, bahwa Muhammad Hasan Pakaja yang sehari-hari digaji oleh negara sebagai penegak hukum memiliki seorang anak perempuan yang merupakan pelanggar hukum yang kasusnya cukup biking kaget.


    Berdasarkan hasil investigasi media ini, diketahui anak Muhammad Hasan Pakaja itu bernama Astrid Fitriyani Pakaya, SKM alias Astrid. Ia menjalani masa hukuman pidana penjara selama 5 tahun sejak Februari 2019 lalu atas kasus investasi bodong.


    Tak hanya dihukum penjara 5 tahun, Astrid yang adalah anak dari pasangan Muhammad Hasan Pakaja, SH dan dr. Titty Pakaja, M.Kes itu pun dihukum denda sejumlah Rp 10.000.000.000,00,- (sepuluh milyar rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama 2 (dua) bulan.


    Majelis Hakim juga membebani Astrid untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp.5.000,00,- (lima ribu rupiah);


    Hal itu sesuai putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ternate nomor 184/Pid.B/2018/PN Tte yang diketuai oleh Rahmat Selang selaku Hakim Ketua dan Nkithanel N. Ndaumanu serta Sugiannur masing-masing sebagai hakim anggota yang diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari Senin tanggal 4 Februari 2019 lalu.


    Dimana, sidang itu turut dihadiri oleh Jefri Pratama selaku Panitera Pengganti pada Pengadilan Negeri Ternate, Mokhsin Umalekhoa selaku Penuntut Umum dan Terdakwa yang didampingi Penasihat Hukumnya;


    Vonis hukuman yang dibacakan Majelis Hakim itu lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang menuntut Astrid dengan hukuman pidana penjara selama 7 (tujuh) Tahun serta denda sebesar Rp. 10.000.000.000 (sepuluh milyar rupiah), apabila tidak dibayar ditambah dengan pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan, dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara.


    Majelis Hakim dalam putusannya menyatakan Astrid telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari pimpinan Bank Indonesia”.


    Majelis Hakim juga menetapkan barang bukti berupa: 


    1 (satu) examplar catatan setoran nasabah;


    1 (satu) lembar print out rekening koran Bank Mandiri a.n. Astried Fitrianti Pakaya, periode tanggal 19 Februari 2018 sampai dengan tanggal 08 Maret 2018;


    1 (satu) lembar print out rekening koran Bank BCA a.n. Astried Fitrianti Pakaya, periode tanggal 01 November 2017 sampai dengan tanggal 05 Maret 2017;


    1 (satu) lembar print out rekening koran Bank BNI a.n. Astried Fitrianti Pakaya, periode tanggal 01 Desember 2017 sampai dengan tanggal 07 Maret 2018;


    1 (satu) lembar print out rekening koran Bank BNI a.n. Andi Yunanto, periode tanggal 12 Desember 2017 sampai dengan tanggal 04 Maret 2018;


    1 (Satu) Bundel Rekapan Para Nasabah;


    2 (Dua) lembar Cek BNI No, CC887169 dan No. CC886937 an. CV Diamantina;


    1 (Satu) Bundel Print Out Rekening Bank BNI Taplus an. Hastuti;


    1 (Satu) Bundel Print Out Rekening Bank Mandiri an. Hastuti;


    1 (Satu) Buah Handphone merk OPPO F1 Plus No. HP. 081342077816;


    12  (dua belas) lembar kwitansi warna merah muda Bukti kas masing-masing : 


    Bukti kas, sudah terima dari Chily / Ummah pada tanggal 19 Januari 2018 dengan jumlah uang sebesar Rp. 511.000.000.- (lima ratus sebelas juta rupiah) yang menerima sdri. Astried F. Pakaya diserahkan oleh sdri. Hastuti alias Chily;


    Bukti kas, sudah terima dari Chily dan Ummah untuk keperluan setoran plan sebesar Rp. 95.000.000.- (Sembilan puluh lima juta rupiah) tanggal 19 Januari 2018 yang menerima sdri. Astried F. Pakaya, diserahkan oleh sdri. Hastuti alias Chily;


    Bukti kas, sudah terima dari Chily dan Ummah untuk keperluan setoran plan sebesar Rp. 231.000.000.- (dua ratus tiga puluh satu juta rupiah) tanggal 21 Januari 2018 yang menerima sdri. Astried F. Pakaya, diserahkan oleh sdri. Hastuti alias Chily;


    Bukti kas, sudah terima dari Chily dan Ummah untuk keperluan setoran plan sebesar Rp. 231.500.000.- (dua ratus tiga puluh satu juta lima ratus ribu rupiah) tanggal 23 Januari 2018 yang menerima sdri. Astried F. Pakaya, diserahkan oleh sdri. Hastuti alias Chily;


    Bukti kas, sudah terima dari Chily dan Ummah untuk keperluan setoran plan sebesar Rp. 40.000.000.- (empat puluh juta rupiah) tanggal 24 Januari 2018 yang menerima sdri. Astried F. Pakaya, diserahkan oleh sdri. Hastuti alias Chily;


    Bukti kas, sudah terima dari Chily dan Ummah untuk keperluan plan sebesar Rp. 62.000.000.- (enam puluh dua juta rupiah) tanggal 25 Januari 2018 yang menerima sdri. Astried F. Pakaya, diserahkan oleh sdri. Hastuti alias Chily;


    Bukti kas, sudah terima dari Chily dan Ummah untuk keperluan setoran plan invest sebesar Rp. 20.000.000.- (dua puluh juta rupiah) tanggal 25 Januari 2018 yang menerima sdri. Astried F. Pakaya, diserahkan oleh sdri. Hastuti alias Chily;


    Bukti kas, sudah terima dari Chily dan Ummah sebesar Rp. 142.500.000.- (seratus empat puluh dua juta lima ratus ribu rupiah) tanggal 26 Januari 2018 yang menerima sdri. Astried F. Pakaya, diserahkan oleh sdri. Hastuti alias Chily;


    Bukti kas, sudah terima dari Chily dan Ummah untuk keperluan setoran plan sebesar Rp. 236.750.000.- (dua ratus tiga puluh enam juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) tanggal 27 Januari 2018 yang menerima sdri. Astried F. Pakaya, diserahkan oleh sdri. Hastuti alias Chily;


    Bukti kas, sudah terima dari Chily dan Ummah sebesar Rp. 152.000.000.- (seratus lima puluh dua juta rupiah) tanggal 29 Januari 2018 yang menerima sdri. Astried F. Pakaya, diserahkan oleh sdri. Hastuti alias Chily;


    Bukti kas, sudah terima dari Chily dan Ummah untuk keperluan setoran plan sebesar Rp. 50.000.000.- (lima puluh juta rupiah) tanggal 7 Februari 2018 yang menerima sdri. Astried F. Pakaya, diserahkan oleh sdri. Hastuti alias Chily;


    Bukti kas, sudah terima dari Chily dan Ummah untuk keperluan plan khusus sebesar Rp. 500.000.000.- (lima ratus juta  rupiah) yang menerima sdri. Astried F. Pakaya, diserahkan oleh sdri. Hastuti alias Chily;


    1 (satu) lembar Cek BNI No, CC886934. CV Diamantina .a.n Imeldawati Darjan. Tanggal 29 Januari 2018;


    1 (satu) lembar Cek BNI No, CC886935. CV Diamantina .a.n Imeldawati Darjan. Tanggal 12 Februari 2018;


    1 (satu) lembar Cek BNI No, CC886936. CV Diamantina .a.n Imeldawati Darjan. Tanggal 22 Februari 2018;


    1 (Satu) Bundel Rekapan Para Nasabah;


    2 (Dua) lembar Cek BNI No, CC887170 dan No. CC886937 an. CV Diamantina;


    10  (sepuluh) lembar kwitansi warna merah Bukti kas tanda masing-masing;


    Bukti kas tanggal 17 Januari 2018 total uang yang diserahkan sebesar Rp. 468.550.000.- (empat ratus enam puluh delapan juta lima ratus lima puluh juta rupiah) diterima oleh Astried F. Pakaya yang diserahkan oleh Sdri. Sugiarti RA. Hataul;


    Bukti kas tanggal 18 Januari 2018 total uang yang diserahkan sebesar Rp. 220.500.000.- (dua ratus dua puluh juta lima ratus ribu rupiah) diterima oleh sdri. Astried F. Pakaya yang diserahkan oleh Sdri. Sugiarti RA. Hataul;


    Bukti kas tanggal 19 Januari 2018 total uang yang diserahkan sebesar Rp. 331.000.000.- (tiga ratus tiga puluh satu juta rupiah) diterima oleh sdri. Astried F. Pakaya yang diserahkan oleh Sdri. Sugiarti RA. Hataul;


    Bukti kas tanggal 21 Januari 2018 total uang yang diserahkan sebesar Rp. 88.000.000.- (delapan puluh delapan rupiah) diterima oleh sdri. Astried F. Pakaya yang diserahkan oleh Sdri. Sugiarti RA. Hataul;


    Bukti kas tanggal 23 Januari 2018 total uang yang diserahkan sebesar Rp. 439.000.000.- (empat ratus tiga puluh Sembilan juta rupiah) diterima oleh sdri. Astried F. Pakaya yang diserahkan oleh Sdri. Sugiarti RA. Hataul;


    Bukti kas tanggal 24 Januari 2018 total uang yang diserahkan sebesar Rp. 65.500.000.- (enam puluh lima juta lima ratus ribu rupiah) diterima oleh sdri. Astried F. Pakaya yang diserahkan oleh Sdri. Sugiarti RA. Hataul;


    Bukti kas tanggal 25 Januari 2018 total uang yang diserahkan sebesar Rp. 46.000.000.- (empat puluh enam juta rupiah) diterima oleh sdri. Astried F. Pakaya yang diserahkan oleh Sdri. Sugiarti RA. Hataul;


    Bukti kas tanggal 29 Januari 2018 total uang yang diserahkan sebesar Rp. 36.700.000.- (tiga puluh enam juta tujuh ratus ribu rupiah) diterima oleh sdri. Astried F. Pakaya yang diserahkan oleh Sdri. Sugiarti RA. Hataul;


    Bukti kas tanggal 2 Februari 2018 total uang yang diserahkan sebesar Rp. 45.000.000.- (empat puluh lima juta rupiah) diterima oleh sdri. Astried F. Pakaya yang diserahkan oleh Sdri. Sugiarti RA. Hataul;


    Bukti kas tanggal 5 Februari 2018 total uang yang diserahkan sebesar Rp. 25.000.000.- (dua puluh lima juta rupiah) diterima oleh sdri. Astried F. Pakaya yang diserahkan oleh Sdri. Sugiarti RA. Hataul;


    8 (delapan) lembar kwitansi/bukti kas warna merah muda lembaran ke 2 yang sudah diterima dari Rahayu / Zakia untuk keperluan “Setoran Tunai Investasi Plan” yang menerima terdakwa Astried F. Pakaya. Diserahkan oleh  Siti Rahayu Falila;


    1 (satu) lembar kwitansi dengan jumlah uang Rp. 42.000.000. (empat puluh dua juta rupiah) tanggal 05 Februari 2018 untuk pembayaran “Pemasukan 03 Februari 2018 sebesar Rp. 30.000.000., 04 Februari 2018 Rp. 47.000.000.- Fitria Ode Rp. 15.000.000. total (Rp. 62.000.000) yang dikasih Rp. 42.000.000. yang menerima Andi Yunanto. Diserahkan oleh Siti Rahayu Falila;


    12 (dua belas) lembar print out rekening Koran Bank BNI Taplus Cabang Ternate a.n. Siti Rahayu M Falila dengan no. rek. 0442897461 yang ditransfer ke 280570581 a.n. Astried F. yang diserahkan langsung oleh Siti Rahayu Falila;


    Semua barang bukti itu dikembalikan kepada Penuntut Umum untuk dijadikan barang bukti dalam perkara Hastuti alias Cili dan kawan-kawan.


    Sementara itu, Muhammad Hasan Pakaja yang dikonfirmasi via telepon selulernya, Selasa (13/12/2022) tak membantah kalau anaknya memang di penjara atas kasus investasi bodong.


    "Itu perkara sudah lama," kata Muhammad Hasan Pakaja.


    Menurutnya, anaknya Astrid bersama terpidana lain telah menjalani hukuman mereka.


    "Sudah incrah kan? Sudah dijalani," kata Muhammad Hasan Pakaja.


    Bahkan, kendati Pakaja tak membantah anaknya itu divonis divonis lima tahun penjara dan denda Rp. 10.000.000.000, tapi Pakaja mengaku kalau anaknya dan sejumlah terpidana lainnya telah selesai menjalani masa hukumnya.


    "Semua sudah keluar itu," ucapnya.


    Menurutnya, apa yang dialami oleh anaknya itu adalah cobaan yang telah dilalui.


    "Katong inikan, manusia ini kan, mana yang tidak ada cobaan. Pasti ada cobaan kan, semua. Tapi itukan sudah dulu-dulu," tuturnya. (KT-01)


    Video Terbaik Tahun Ini

    Baca Juga

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Diduga, Gelar Sarjana Hukum Kajari Buru Bermasalah Alias Palsu Rating: 5 Reviewed By: Kompas Timur
    Scroll to Top