• Headline News





    Saturday, June 24, 2017

    Ini Cerita Mudik Ku 'Sengsara Karena Rindu Yang Berujung Bahagia'


    Lagu Terbaik Tahun 2021
    Bula, Kompastimur.com
    Selesai Sahur, saya Arman Tanamal bersama anak dan istri, tepat hari Selasa, 20 Juni 2017 hati gelisah memikirkan kedua orang tua karena selang beberapa hari kedepan hari kemenangan yang Fitri telah tiba, yaitu Lebaran Idul Fitri, dan saya melafalkan niat untuk pulang kampung lebaran bersama kedua orang tua di kampung halaman.

    Paginya, saya langsung ke Kantor Trigana Air Bula Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) hendak memesan dua tiket pesawat untuk istri dan anak saya dengan tujuan Bandara Internasional Nasional Pattimura Ambon.

    Walaupun hari itu sejak pukul 01.00 WIT sampai pukul 05.00 WIT cuaca sangat tak bersahabat, bunyi guntur di serta kilat yang kencang begitu juga guyuran hujan yang bisa dikatakan sangat buruk cuaca hari itu, hati gelisah melihat cuaca yang kurang bersahabat, mengingat keselamatan anak istri ditambah dengan rindu yang menggebuh untuk berkumpul dengan keluarga, sementara tiketnya telah saya booking. Tepat pukul 05.30 WIT, saya mengantarkan istri dan anak saya ke Kantor Trigana sesuai waktu yang telah ditentukan pihak Trigana Air, di sana terlihat banyak saudara-saudara yang juga dengan tujuan yang sama, yaitu Mudik, mata saya tetap memandang ke langit sambil berharap yang Kuasa memberi cuaca yang baik untuk penerbangan istri dan anak saya, Alhamdulillah cuaca pagi itu cukup mendukung untuk penerbangan.

    Selang beberapa menit kemudian 4 buah mobil yang mengantarkan rombongan ke bandara mulai bertolak. Dan sayapun mengambil persiapan lintas Bula - Ambon menggunakan kendaraan roda dua (Sepeda Motor-red), Tas, Minyak di Motor dan Jaket Hujan, dsb.

    Persiapan pun telah dipenuhi dan sahabat kecilku Baim Rumadaul sapaan akrabnya, yang ikhlas menemaniku sepanjang perjalanan waktu itu, kita berdua pun bertolak dari Bula sekitar pukul 06.45 WIT, sepanjang perjalanan, canda, tawa penghilang ngantuk pun selalu ada mengingat kami dalam kondisi berpuasa dan rentang untuk ngantuk. Jarak yang kita tempuh kurang lebih 500 KM dan kecepatan disesuaikan dengan kondisi jalan yang agak berat.

    Sekitar pukul 09.00 WIT tibalah kami di Negeri Wahai Kecamatan Seram Utara, dan kamipun telah dua kali mengisi bensin di penjual bensin eceran, setelahnya kami melanjutkan lagi perjalanan hingga menembus kaki gunung tertinggi di Pulau Seram itu, istilah kerennya "Gunung SS".

    Alhamdulillah rintangan terberat telah terlewati, kini tinggal rintangan kedua Gunung Saka menuju negeri Waipia, memulai dari SS ke Saka ada hambatan di tengah perjalanan, yang pertama yaitu hujan deras, karena mulai dari Bula sampai di Gunung SS kami tak mendapatkan hujan, maka mantel hujan yang disediakan tersimpan rapi di dalam bagasi motor, namun ketika melewati Gunung Saka Hujanpun mulai menampakan sosoknya dan sayapun berhenti dan keluarkan Mantel hujannya, karena Mantel yang disediakan modelnya satu Mantel berkepala dua, kamipun lanjutkan melintasi gunung Saka, tiba-tiba beberapa menit kemudian sahabat kecil saya memegang bahu saya dan mengatakan "Abang Stop Dolo, Tas kacil ada jatoh".

    Tas kecil itu isinya HP 3 buah, dompet dua buah dan perlengkapan kami lainya. Dan sayapun berhenti dan berbalik arah untuk mencari tas kami yang jatuh, hilangpun konsentrasi, emosipun tak terkendali, diterpa hujan besar, belum lagi ketika melihat jarum minyak, mungkin cukup untuk balik mencari, tetapi tidak cukup untuk melanjutkan perjalanan lagi. Belum lagi di saku celana kami tak ada sepeserpun nominal rupiah tersisa, hatipun semakin galau sepanjang perjalanan balik mencari tas itu, matapun fokus di atas bahu jalan melihat dan berharap tas itu belum ditemukan, sementara perjalanan tadi ada dua mobil dan 3 motor yang arahnya balik ke tempat jatuhnya tas itu, bingung serta penuh harap dan Doa.

    Setelah beberapa menit kemudian saya melirik ke kanan dan ternyata ada satu buah motor yang bersingga di sebuah rumah kebun dekat jalan, tempatnya agak ketinggian dari jalan raya, matapun tertuju kepada mereka berdua karena saat saya lihat seperti lagi melihat sesuatu, jarak dari jalan raya ke rumah itu kurang lebih 25 Meter, dan saya berhenti dan memutar motor ke arah motor yang lagi parkir di seberang jalan, ketika saya berhenti dan menanyakan "Abang dari jalur SS kan? Mereka menjawab, Bukan Katong dari Masohi" padahal motor dan orang itu sebelumnya sama-sama berjalan pas naik d gunung SS, saya kenal persis mereka dan saya yakin mereka menemukan tas kami.

    Setelah itu, sayapun dengan berani dan penuh keyakinan beranjak naik ke rumah kebun itu, melihat muka mereka berdua yang panik, mungkin mereka takut karena telah membohongi kami, merekapun berkata "Abang Katong dapa Abang dong pung tas" dan adik saya pun memeriksa kelengkapan tas itu, setelah lengkap isinya sayapun menyuruh adik saya untuk memberi imbalan untuk mereka dan merekapun menerimanya.

    Alhamdulillah tas kamipun sudah di temukan, dan kamipun berlanjut dengan trip kami menuju Waipirit, sepanjang perjalanan kami merasa bahagia karena cuaca hari itu hujan, panas sampai kami tiba di pelabuhan Waipirit tepat pukul 17.00 WIT.

    Sore itu tidak ada antrian motor maupun mobil, kamipun sampai di dalam Ferri menuju Pelabuhan Hunimua Liang, waktu menunjukkan pukul 18.30 WIT dan diumumkannya waktu berbuka puasa, kamipun berbuka di atas lautan antara Pulau Seram dan Pulau Ambon, tibalah kami di pelabuhan Hunimua pukul 19.15 menit, kamipun harus menempuh kurang lebih 1 Jam kedepan, maka sampailah di Negeri Wakal.

    Ketika tiba, perasaan Bahagia, Rindu, Capek melebur menjadi satu melihat istri dan anak yang telah sampai duluan, melihat Papa, Mama, Adik, Ponakan dan keluarga lainnya yang telah menanti kami. Sesampainya di rumah, rasa lelah serasa termakan habis oleh rindu yang melebihi segalanya.

    Itulah hikmah Rindu Kepada-Nya, Kepada orang tua kita, kepada orang-orang tersayang, anak, istri dan saudara dengan kebersamaan yang indah di bulan suci menuju Hari yang fitrah.  (Arman Tanamal)


    Baca Juga

    loading...
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ini Cerita Mudik Ku 'Sengsara Karena Rindu Yang Berujung Bahagia' Rating: 5 Reviewed By: Kompas Timur
    loading...
    Scroll to Top