• Headline News

    Monday, December 2, 2019

    Gubernur : Ada Guru Yang 18 Tahun Mengabdi Sebagai Honorer


    Namlea, Kompastimur.com
    Gubernur Maluku, Murad Ismail mengungkap, ada guru honorer di daerah ini ada yang sudah mengabdi selama 18 tahun tapi belum diangkat jadi PNS.

    Hal itu diungkap Gubernur Maluku, Murad Ismail di hadapan wartawan usai memimpin upacara Hari Guru Nasional yang dipusatkan di Alun Alun Bupolo, Namlea, Kabupaten Buru, Senin (2/12). 

    Pada upacara Hari Guru Nasional ini, gubernur membacakan sambutan tertulis Mendiknas, Nadiem Makarim yang lagi  viral di dumay saat disampaikan pada puncak acara tanggal 25 Nopember lalu.

    Peringatan Hari Guru Nasional di Maluku yang baru terlaksana hari ini, diikuti  para kepala sekolah se-Maluku dan turut dihadiri Ketua DPRD Maluku, Lucky Watimuri, Wakil Ketua DPRD Maluku, Azis  Sangkalaa, dewan asal dapil Pulau Buru, Aziz Hentihu dan Kadis Pendidikan Maluku,Saleh Thio.

    Ketua Bunda Paud Maluku, Ny.Widya Murad Ismail dan ketua bunda paud Kabupaten Buru, By Sukmawati Umasugi, juga ikut hadiri puncak peringatan hari guru Nasional ini.

    Sementara dari Pemkab Buru, turut hadir Wabub Amos Besan dan sejumlah pimpinan OPD.Bupati Ramly Umasugi dan Ketua DPRD Buru, Rum Soplestunny berhalangan hadir karena sedang berada di luar daerah.

    Sebelumnya saat hendak membaca sambutan tertulis Mendiknas pada puncak HUT guru, gubernur juga sempat menyentil kekurangan tenaga guru di Indonesia termasuk di Propinsi Maluku yang mencapai limaratus ribuan guru.

    Walau kekurangan guru masih sebanyak itu, akuinya, masih pula terdapat banyak guru honorer yang belum diangkat.Bahkan ada yang sudah mengabdi belasan tahun sebagai guru honorer.

    Untuk itu, di hadapan para guru dan wartawan, gubernur Murad Ismail kembali menegaskan, masalah guru honorer dan kekurangan guru di daerah itu harus bisa dituntaskan.

    Gubernur belum mau menyebut berapa kuota yang dibutuhkan di Maluku dan berapa guru honorer yang masih belum diangkat.

    Ia memilih terlebih dahulu melobi pemerintah pusat melalui Menpan RI, Cahyo Kumolo dan Mendiknas Nadine di Jakarta.

    "Harus jemput bola. Guru guru honor di Maluku ini sudah sangat banyak dan ada yang sudah 18 tahun belum diangkat,"aku Murad Ismail.

    "Ini perlu kita selesaikan segera, biar mereka ada kepastian hidup.Mereka punya masa depan juga bisa aman,"lagi tambah Murad.

    Kata Murad, tugasnya sebagai  gubernur itu ada 2 plus 1.Pertama sebagai gubernur dirinya harus mampu mengentaskan kemiskinan. Kedua harus mampu mensejahterakan masyarakat, termasuk guru.

    Plus 1, lanjut gubernur, adalah seorang kepala daerah, gubernur bupati walikota harus mampu memetakan dan menjaga sumberdaya alam, agar dapat dimanfaatkan  sebaik-baiknya oleh generasi sekarang dan yang akan datang.

    Menyentil soal tambang gunung botak yang sementara ini sedang ditutup dari aktifitas ilegal, gubernur sempat menyinggung rasa tidak sukanya terhadap  Edi Winata dan PT Buana Pratama Sejahtera yang ingin menguasai tambang emas itu tanpa dirundingkan dengan pemik lahan yang sah.Bahkan saat masih menjadi Kapolda Maluku, dirinya pernah mengusir Edi Winata.

    Gubernur juga mengungkapkan ada beberapa pihak yang telah datangi dirinya dengan maksud mengelola tambang gunung botak.

    Namun ia tidak mau merespon mereka, selama para pemodal ini tidak berkomunikasi dengan para pemegang hak Ulayat dan para ahli waris pemilik lahan di Gunung Botak.

    Untuk itu, mengutip sambutan tertulis Mendiknas Nadiem Makarim, gubernur di hadapan ribuan guru yang hadir di alun alun Bupolo, menegaskan tugas guru adalah yang termulia sekaligus yang tersulit.

    Guru ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolangan.
    Guru ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu guru habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

    Guru tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan.

    Kata pula Mendiknas, guru ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya,tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan.

    Guru frustrasi karena guru tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal.

    Guru tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagamaan sebagai prinsip dasar birokrasi. Guru ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.

    "Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia,"janji Nadine dalam sambutan tertulisnya 

    Namun, akui Mendiknas, kalau  perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah.

    Ambillah langkah pertama. Besok, di mana pun Anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas Anda.Ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar.

    Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas.Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas.
    Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri. Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan.

    Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak. (KT-10)

    Baca Juga

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Gubernur : Ada Guru Yang 18 Tahun Mengabdi Sebagai Honorer Rating: 5 Reviewed By: Kompas Timur
    Scroll to Top